Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 24, 2013

apa yang dalam keberagamaan kita

APAKAH YANG SALAH DALAM KEBERAGAMAAN KITA? Melihat kenyataan di masyarakat, asumsi yang menyatakan bahwa “kita adalah masyarakat religus,” agaknya perlu ditinjau kebenarannya. Yang terlibat secara serius dalam upaya menyosialisasikan nilai-nilai agama atau yang memperaktikkannya sungguh sangat minim. Untuk menjawab pertanyaan di atas, agaknya terlebih dahulu kita perlu mengetahui apakah “Agama“ dan “bagaimana  beragama itu?”  Dua pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh ilmuan. Kata Dîn dalam bahasa Al-Quran, seringkali dipersamakan dengan kata agama. Kata tersebut terdiri dari tiga huruf hija’iyah yaitu  dâl, yâ’, dan nûn.  Bagaimanapun cara anda membacanya, maknanya selalu menggambarkan hubungan antara dua pihak, yang satu lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Seperti  dain  yang berarti  utang, atau  dîn  yang berarti balasan  dan kepatuhan,  serta  hubungan antara manusia  di tempat rendah dengan Allah ...

Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga .Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut. "Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani." Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin B...